Translate

Tampilkan postingan dengan label Legenda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Legenda. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Juli 2016

Legenda Batu Keramat [Papua]

Batu Keramat

Menurut cerita rakyat Papua, terdapat sebuah batu keramat di Gunung Kamboi Rama, Kepulauan Yapen Propinsi Papua. Di atas Gunung Kamboi Rama tersebut terdapat dua buah desa kecil bernama Desa Kamboi Rama dan Desa Aroempi. Desa Kamboi Rama dihuni oleh manusia sementara Desa Aroempi dipenuhi tanaman sagu milik tuan tanah bergelar Iriwonawani. Dari desa inilah asal mula legenda batu keramat.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kaum laki-laki Desa Kamboi Rama berburu binatang sementara kaum wanitanya mencari sagu di Desa Aroempi. Sebelum mencari sagu di Desa Aroempi, penduduk desa biasa melakukan pemujaan kepada Dewa Iriwonawani.

Seiring waktu, sagu di Desa Aroempi menjadi berkurang karena terus menerus diambil oleh penduduk Desa Kamboi Rama. Dewa Iriwonawani menjadi marah. Sang Dewa lantas memindahkan tananam sagunya ke daerah lain. Rakyat  Desa Kamboi Rama menjadi ketakutan. Atas perintah kepala suku, mereka segera pindah ke daerah pantai. Mereka mendirikan desa baru di daerah pantai dengan nama Desa Randuayaivi. Semua penduduk desa pindah kecuali sepasang suami istri bernama Irimiami dan Isoray.

Pada suatu hari, sepulang dari ladang, Irimiami beristirahat dengan bersandar pada sebatang pohon sementara Isoray beristirahat dengan duduk di atas sebuah batu besar. Beberapa lama kemudian, Isoray yang duduk di atas batu merasa pantatnya panas kemudian berteriak kepanasan.

“Aduh kenapa batu ini panas sekali.” teriak Isoray. “Suamiku, batu ini panas sekali.” Isoray menunjuk pada batu yang ia duduki.

Irimiami merasa penasaran kemudian memegang batu tersebut menggunakan tangannya. Ia segera menarik tangannya karena merasa panas. Irimiami kemudian mengambil daging rusa. Ia meletakkannya di atas batu tersebut. Tidak lama kemudian daging rusa tersebut menjadi matang. Melihat kejadian itu, mereka berdua ketakutan, lalu berdoa pada Dewa Iriwonawani agar tidak terjadi kebakaran hutan karena api terlihat keluar dari batu panas tersebut. Beruntung, Dewa Iriwonawani mengabulkan doa mereka.

Keesokan harinya, mereka berdua kembali mendatangi batu tersebut. Mereka melakukan percobaan dengan meletakkan dedaunan kering di atasnya. Tidak lama kemudian rumput beserta dedaunan tersebut mengering karena panas kemudian terbakar. Mereka berdua panik dan berdoa kepada Dewa Iriwonawani agar memadamkan api tersebut. Namun kali ini Dewa Iriwonawani tidak mengabulkan doa mereka. Api pun lama-kelamaan makin membesar. Api tersebut terlihat dari Desa Randuayaivi yang terletak di pinggir pantai.

“Ada kebakaran…ada kebakaran…” teriak penduduk Desa Randuayaivi.

Para penduduk segera bergegas naik keatas, ke Desa Kamboi Rama untuk memadamkan api. Akhirnya dengan bantuan penduduk, api berhasil dimatikan. Setelah situasi tenang, Irimiami menceritakan tentang batu panas tersebut. Para penduduk kemudian mencoba meletakkan daging di atas batu tersebut. Tidak lama kemudian daging tersebut matang.

“Benar kan ceritaku.” ujar Irimiami. Irimiami mengusulkan agar setahun sekali diadakan pesta adat di batu tersebut. Ketua adat Desa Randuayaivi menyetujuinya. Batu tersebut kini dianggap sebagai Batu Keramat oleh rakyat setempat.

Keesokan harinya, masyarakat membawa berbagai macam makanan ke batu tersebut untuk dimasak beramai-ramai. Mereka mengadakan pesta di sekitar batu keramat tersebut. Selama pesta berlangsung, Irimiami & Isoray menceritakan semua peristiwa yang terjadi mengenai batu keramat tersebut.

Hingga kini, masyarakat Kepulauan Yapen masih melestarikan budaya tersebut. Mereka sering berkumpul di Batu Keramat untuk melestarikan budaya yang dimulai oleh leluhur mereka, Irimiami & Isoray, sambil saling menjalin persaudaraan.

Sumber: http://indofabel.com/papua/legenda-batu-keramat/
Baca selengkapnya

Legenda Lubuk Emas [Sumatera Utara]

Lubuk Emas

Tersebutlah seorang raja yang bertakhta di daerah Teluk Dalam. Raja Simangolong namanya . Sang Raja mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik wajahnya yang bernama Sri Pandan.

Sri Pandan tidak hanya cantik jelita wajahnya . Namun juga terampil pula ia bekerja, ia pandai menenun, menganyam tikar dan terbiasa pula menumbuk padi.

Kecantikann Sri Pandan begitu tersebar . Tidak hanya diketahui rakyat , melainkan para pemuda dari negeri lain. Raja Simangolong sangat berharap, putrinya itu akan menikah dengan pangeran dari negeri lain . dengan demikian hubungan persahabatan dengan negeri lain akan dapat terjalin dengan baik.

Raja Simangolong amat gembira ketika akhirnya datang lamaran dari kerajaan Aceh. Raja aceh meminang Sri Pandan untuk dinikahkan dengan pangeran Aceh yang telah dinobatkan sebagai putra mahkota. Namun demikian Raja Simangolong tidak serta mertamenerima lamaran itu sebelum meminta pendapat putrinya terlebih dahulu. Oleh karena itu ia meminta waktu kepada utusan Raja aceh.”setelah putriku menyatakan persetujuannya ,” katanya, “ aku akan sesegera mungkin mengirimkan utusan kepada Raja Aceh untuk mengabarkannya”.

Sepulang utusan Raja Aceh Raja Simangolong pun bertanya kepada putrinya Sri Pandan, “anakku , utusan Raja Aceh telah melamarmu . engkau hendak dinikahkan dengan putra mahkota Raja aceh. Sungguh, Ayahmu ini sangat berbahagia menerima lamaran itu karena ayah sangat berharap engaku dapat disunting putra raja dan kelak engkau akan dapat kemuliaan sebagai permaisuri. Bagaimana pendapatmu dengan lamaran Raja Aceh itu., Wahai anakku?.

Sri Pandan tidak buru-buru menjawab , ia bahkan menundukan wajah. Airmatanya pun luruh.

Sikap Sri Pandan sangat membuat keheranan raja simalongong. “mengapa engkau menagis Anakku? Apakah kau menagis bahagia atau ada hal lain?”

Sri Pandan Tidak juga lekas menjawab pertanyaan Ayahandanya. Airmatanya bahkan kian deras menetes.

“ Jawablah, “ kata Raja Simangolongsangat ingin mendengar kesanggupan putrinya menerima lamaran itu sesuai harapannya.

“ Ampun Ayahanda, “ kata Sri Pandan akhirnya. Suaranya terdengar lirih dan wajahnya tetap tertunduk. “bukan hamba tidak inginberbakti kepada Ayahanda dengan menerima lamaran tersebut melainkan..”

“ Melainkan apa?”

Dengan suara terbata-bata Sri Pandan lantas menjelaskan , ia sesungguhnya telah menjalin hubungan dengan seorang pemuda . ia bahkan telah saling mengikat janji dengan kekasih hatinya itu.

“ Siapakah pemuda yang engkau maksud itu?” Tanya Raja simangolong yang sangat terkejut mendengar penjelasan anaknya.

“ Hobatan, Ayahanda, “

“ Apa?” kedua bola mata Raja Simangolong Membesar ketika mendapat jawaban Putrinya.

“ Maksudmu… Hobatan pembantu setia kita itu?’

“ Benar Ayahanda, “

“ Engkau memilih tetap Setia dengan hobatan dan menolak lamaran Putra Mahkota Kerajaan Aceh?’

Sri Pandan menganggukan kepala. Tak terperikan kemarahan raja Simangolong mendapati keteguhan sikap putrinya yang tetap memilih menjadi istri pembantu setianya dibandingkan disunting Putra Mahkota Kerajaan Aceh. Dengan kemarahan yang terus meninggi berujarlah Raja Simangolong., “Terimalah lamaran Putra Mahkota Kerajaan Aceh! Putuskan hubungan mu dengan Hobatan! Jika engkau tidak juga memutuskan hubunganmu, niscaya Hobatan Akan aku Usir!’

Sri Pandan Tidak berdaya menghadapi perintah Ayahnya. Ia lantas menemui Hobatan dan mengajaknya untuk pergi dari istana kerajaan. Betapa kecewanya Sri Pandan ketika mendengar Hobatan mmenolak ajakannya. Tidak hanya menolak Hobatan bahkan menyarankan agar Sri Pandan menerima saja lamaran Putra Mahkota Kerajaan Aceh. Kata Hobatan, “ itu lebih baik bagimu. Kelak engkau akan menjadi permaisuri setelah putra mahkota yang melamarmu itu bertakhta selaku Raja”.

Sri Pandan yang sangat kecewa lantas berujar ,” baiklah jika itu yang menjadi kehendakmu. Aku akan terjun ke lubuk dibandingkan harus menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Ketahuilah wahai kekasihku, aku akan tetap setia dengan cintaku padamu!”

Hobatan tetap pada pendiriannya, ia menyarankan pada kekasihnya itu mengurungkan rencana anehnya itu dan lebih baik menerima pinangan Putra Mahkota Kerajaan aceh.

Bertambah-tambah kekecewaan Sri Pandan. Hari itu juga ia berkemas-kemas. Dibawanya beberapa lembar pakaiannya. Semua perhiasan yang terbuat dari emas turut dibawanya serta. Dengan langkah mantap ia meninggalkan istana kerajaan dan menuju lubuk sungai asahan.

Setibanya ditempat yang dimaksudnya Sri Pandan melemparkan semua barang bawaannya ke dalam lubuk yang dalam itu. Pakaian dan perhiasan emas yang banyak jumlahnya itu pun berjatuhan dan masuk kedalam lubuk. Tak berapa lama Sri Pandan pun berujar.” tidak akan ada lagi perempuan cantik di kerajaan ini!”

Selesai berujar Sri Pandan lantas menerjunkan dirinya ke dalam lubuk membawa cinta dan kesetiaannya.

Kegemparan besar melanda istana kerajaan ketika Raja Simalongong dan permaisuri tidak menemukan Sri pandan. Raja Simalongong Lantas memanggil Hobatan.

Di hadapan Raja Simalongong, Hobatan menceritakan kejadian yang dialaminya berkenaan dengan Sri Pandan. Ia telah menyarankan agar Sri pandan menerima pinangan Putra Mahkota Kerajaan Aceh namun Sri pandan malah mengancam akan terjun ke lubuk dibandingkan harus menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya .

Raja Simangolong amat menyesali tindakannya.

Raja Simalongong dengan diiringi para prajurit segera menuju lubuk di sungai asahan itu. Para prajurit bergegas menerjuni lubuk untuk mencari Sri Pandan. Namun setelah berulang-ulang menyelam dan mencari, Sri Pandan tidak juga mereka ketemukan . mengingat Sri Pandan terjun kedalam lubuk dengan membawa seluruh perhiasan emasnya, maka lubuk itu pun dinamakan lubuk emas.

Sumber: http://dongengceritarakyat.com/cerita-rakyat-sumatera-utara-legenda-lubuk-emas/
Baca selengkapnya

Senin, 24 Agustus 2015

Legenda Lutung Kasarung [Jawa Barat]


Cover Cerita 


Pada jaman dahulu kala di tatar pasundan ada sebuah kerajaan yang pimpin oleh seorang raja yang bijaksana, beliau dikenal sebagai Prabu Tapak Agung.

Prabu Tapa Agung mempunyai dua orang putri cantik yaitu Purbararang dan adiknya Purbasari.

Pada saat mendekati akhir hayatnya Prabu Tapak Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti. “Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta,” kata Prabu Tapa.

Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. “Aku putri Sulung, seharusnya Ayahanda memilih aku sebagai penggantinya,” gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya. Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya tersebut. “Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu !” ujar Purbararang.

Kemudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Sesampai di hutan patih tersebut masih berbaik hati dengan membuatkan sebuah pondok untuk Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari, “Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti akan selalu bersama Putri”. “Terima kasih paman”, ujar Purbasari.

Selama di hutan ia mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Diantara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung kasarung selalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga –bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya.

Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Ini membuktikan bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum.

Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. “Apa manfaatnya bagiku ?”, pikir Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama setelah ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin ditelaga tersebut.

Di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak mau kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. “Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang !”, kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, tetapi karena terus didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang.

“Baiklah aku kalah, tapi sekarang ayo kita adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku”, kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah dan kebingungan. Akhirnya ia melirik serta menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak, “Jadi monyet itu tunanganmu ?”.

Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan, lebih dari Indrajaya. Semua terkejut melihat kejadian itu seraya bersorak gembira. Purbararang akhirnya mengakui kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana.

Purbasari menjadi seorang ratu, didampingi oleh seorang pemuda idamannya. Pemuda yang ternyata selama ini selalu mendampinginya dihutan dalam wujud seekor lutung.
Baca selengkapnya

Legenda Manik Angkeran [Bali]


Cover Cerita 


 Pada jaman dulu di kerajaan Daha hiduplah seorang Brahmana yang benama Sidi Mantra yang sangat terkenal kesaktiannya. Sanghyang Widya atau Batara Guru menghadiahinya Harta benda dan seorang istri yang cantik. Sesudah bertahun-tahun kawin, mereka mendapat seorang anak yang mereka namai Manik Angkeran.

Meskipun Manik Angkeran seorang pemuda yang gagah dan pandai namun dia mempunyai sifat yang kurang baik, yaitu suka berjudi. Dia sering kalah sehingga dia terpaksa mempertaruhkan harta kekayaan orang tuanya, malahan berhutang pada orang lain. Karena tidak dapat membayar hutang, Manik Angkeran meminta bantuan ayahnya untuk berbuat sesuatu. Sidi Mantra berpuasa dan berdoa untuk memohon pertolongan dewa-dewa. Tiba-tiba dia mendengar suara, “Hai, Sidi Mantra, di kawah Gunung Agung ada harta karun yang dijaga seekor naga yang bernarna Naga Besukih. Pergilah ke sana dan mintalah supaya dia mau mernberi sedikit hartanya.”

Sidi Mantra pergi ke Gunung Agung dengan mengatasi segala rintangan. Sesampainya di tepi kawah Gunung Agung, dia duduk bersila. Sambil membunyikan genta dia membaca mantra dan memanggil nama Naga Besukih. Tidak lama kernudian sang Naga keluar. Setelah mendengar maksud kedatangan Sidi Mantra, Naga Besukih menggeliat dan dari sisiknya keluar emas dan intan. Setelah mengucapkan terima kasih, Sidi Mantra mohon diri. Semua Harta benda yang didapatnya diberikan kepada Manik Angkeran dengan harapan dia tidak akan berjudi lagi. Tentu saja tidak lama kemudian, harta itu habis untuk taruhan. Manik Angkeran sekali lagi minta bantuan ayahnya. Tentu saja Sidi Mantra menolak untuk membantu anakya.

Manik Angkeran mendengar dari temannya bahwa harta itu didapat dari Gunung Agung. Manik Angkeran tahu untuk sampai ke sana dia harus membaca mantra tetapi dia tidak pernah belajar mengenai doa dan mantra. Jadi, dia hanya membawa genta yang dicuri dari ayahnya waktu ayahnya tidur.

Setelah sampai di kawah Gunung Agung, Manik Angkeran membunyikan gentanya. Bukan main takutnya ia waktu ia melihat Naga Besukih. Setelah Naga mendengar maksud kedatangan Manik Angkeran, dia berkata, “Akan kuberikan harta yang kau minta, tetapi kamu harus berjanji untuk mengubah kelakuanmu. Jangan berjudi lagi. Ingatlah akan hukum karma.”

Manik Angkeran terpesona melihat emas, intan, dan permata di hadapannya. Tiba-tiba ada niat jahat yang timbul dalam hatinya. Karena ingin mendapat harta lebih banyak, dengan secepat kilat dipotongnya ekor Naga Besukih ketika Naga beputar kembali ke sarangnya. Manik Angkeran segera melarikan diri dan tidak terkejar oleh Naga. Tetapi karena kesaktian Naga itu, Manik Angkeran terbakar menjadi abu sewaktu jejaknya dijilat sang Naga.

Mendengar kernatian anaknya, kesedihan hati Sidi Mantra tidak terkatakan. Segera dia mengunjungi Naga Besukih dan memohon supaya anaknya dihidupkan kembali. Naga menyanggupinya asal ekornya dapat kembali seperti sediakala. Dengan kesaktiannya, Sidi Mantra dapat memulihkan ekor Naga. Setelah Manik Angkeran dihidupkan, dia minta maaf dan berjanji akan menjadi orang baik. Sidi Mantra tahu bahwa anaknya sudah bertobat tetapi dia juga mengerti bahwa mereka tidak lagi dapat hidup bersama.

“Kamu harus mulai hidup baru tetapi tidak di sini,” katanya. Dalam sekejap mata dia lenyap. Di tempat dia berdiri timbul sebuah sumber air yang makin lama makin besar sehingga menjadi laut. Dengan tongkatnya, Sidi Mantra membuat garis yang mernisahkan dia dengan anaknya. Sekarang tempat itu menjadi selat Bali yang memisahkan pulau Jawa dengan pulau Bali.
Baca selengkapnya

Legenda Cindelaras [Jawa Timur]

Cover Cerita

Raden Putra adalah raja Kerajaan Jenggala. Ia didampingi seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang cantik jelita. Tetapi, selir Raja Raden Putra memiliki sifat iri dan dengki terhadap sang permaisuri. Ia merencanakan suatu yang buruk kepada permaisuri. “Seharusnya, akulah yang menjadi permaisuri. Aku harus mencari akal untuk menyingkirkan permaisuri,” pikirnya.

Selir baginda, berkomplot dengan seorang tabib istana. Ia berpura-pura sakit parah. Tabib istana segera dipanggil. Sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. “Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri,” kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patihnya untuk membuang permaisuri ke hutan.

Sang patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuhnya. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. “Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh,” kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja menganggung puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.

Setelah beberapa bulan berada di hutan, lahirlah anak sang permaisuri. Bayi itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur. “Hmm, rajawali itu baik sekali. Ia sengaja memberikan telur itu kepadaku.” Setelah 3 minggu, telur itu menetas. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang bagus dan kuat. Tapi ada satu keanehan. Bunyi kokok ayam jantan itu sungguh menakjubkan! “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…”

Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. “Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku,” tantangnya. “Baiklah,” jawab Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan. Ayamnya benar-benar tangguh.

Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat. Raden Putra pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras. “Hamba menghadap paduka,” kata Cindelaras dengan santun. “Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata,” pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.

Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. “Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?” Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. “Kukuruyuk… Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra…,” ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. “Benarkah itu?” Tanya Baginda keheranan. “Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda.”

Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. “Aku telah melakukan kesalahan,” kata Baginda Raden Putra. “Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku,” lanjut Baginda dengan murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.
Baca selengkapnya

Legenda Danau Lipan [Kalimantan Timur]

Cover Cerita

Di kecamatan Muara Kaman kurang lebih 120 km di hulu Tenggarong ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur ada sebuah daerah yang terkenal dengan nama Danau Lipan. Meskipun bernama Danau, daerah tersebut bukanlah danau seperti Danau Jempang dan Semayang. Daerah itu merupakan padang luas yang ditumbuhi semak dan perdu.

Dahulu kala kota Muara Kaman dan sekitarnya merupakan lautan. Tepi lautnya ketika itu ialah di Berubus, kampung Muara Kaman Ulu yang lebih dikenal dengan nama Benua Lawas. Pada masa itu ada sebuah kerajaan yang bandarnya sangat ramai dikunjungi karena terletak di tepi laut.

Terkenallah pada masa itu di kerajaan tersebut seorang putri yang cantik jelita. Sang putri bernama Putri Aji Bedarah Putih. Ia diberi nama demikian tak lain karena bila sang putri ini makan sirih dan menelan air sepahnya maka tampaklah air sirih yang merah itu mengalir melalui kerongkongannya.

Kejelitaan dan keanehan Putri Aji Bedarah Putih ini terdengar pula oleh seorang Raja Cina yang segera Berangkat dengan Jung besar beserta Bala tentaranya dan berlabuh di laut depan istana Aji Bedarah Putih. Raja Cina pun segera naik ke darat untuk melamar Putri jelita.

Sebelum Raja Cina menyampaikan pinangannya, oleh Sang Putri terlebih dahulu raja itu dijamu dengan santapan bersama. Tapi malang bagi Raja Cina, ia tidak mengetahui bahwa ia tengah diuji oleh Putri yang tidak saja cantik jelita tetapi juga pandai dan bijaksana. Tengah makan dalam jamuan itu, puteri merasa jijik melihat kejorokan bersantap dari si tamu. Raja Cina itu ternyata makan dengan cara menyesap, tidak mempergunakan tangan melainkan langsung dengan mulut seperti anjing.

Betapa jijiknya Putri Aji Bedarah Putih dan ia pun merasa tersinggung, seolah-olah Raja Cina itu tidak menghormati dirinya disamping jelas tidak dapat menyesuaikan diri. Ketika selesai santap dan lamaran Raja Cina diajukan, serta merta Sang Putri menolak dengan penuh murka sambil berkata, “Betapa hinanya seorang putri berjodoh dengan manusia yang cara makannya saja menyesap seperti anjing.”

Penghinaan yang luar biasa itu tentu saja membangkitkan kemarahan luar biasa pula pada Raja Cina itu. Sudah lamarannya ditolak mentah-mentah, hinaan pula yang diterima. Karena sangat malu dan murkanya, tak ada jalan lain selain ditebus dengan segala kekerasaan untuk menundukkan Putri Aji Bedarah Putih. Ia pun segera menuju ke jungnya untuk kembali dengan segenap Bala tentara yang kuat guna menghancurkan kerajaan dan menawan Putri.

Perang dahsyat pun terjadilah antara Bala tentara Cina yang datang bagai gelombang pasang dari laut melawan Bala tentara Aji Bedarah Putih.

Ternyata tentara Aji Bedarah Putih tidak dapat menangkis serbuan Bala tentara Cina yang mengamuk dengan garangnya. Putri yang menyaksikan jalannya pertempuran yang tak seimbang itu merasa sedih bercampur geram. Ia telah membayangkan bahwa peperangan itu akan dimenangkan oleh tentara Cina. Karena itu timbullah kemurkaannya.

Putri pun segera makan sirih seraya berucap, “Kalau benar aku ini titisan raja sakti, maka jadilah sepah-sepahku ini lipan-lipan yang dapat memusnahkan Raja Cina beserta seluruh Bala tentaranya.” Selesai berkata demikian, disemburkannyalah sepah dari mulutnya ke arah peperangan yang tengah berkecamuk itu. Dengan sekejap mata sepah sirih putri tadi berubah menjadi beribu-ribu ekor lipan yang besar-besar, lalu dengan bengisnya menyerang Bala tentara Cina yang sedang mengamuk.

Bala tentara Cina yang berperang dengan gagah perkasa itu satu demi satu dibinasakan. Tentara yang mengetahui serangan lipan yang tak terlawan itu, segera lari lintang-pukang ke jungnya. Demikian pula sang Raja. Mereka bermaksud akan segera meninggalkan Muara Kaman dengan lipannya yang dahsyat itu, tetapi ternyata mereka tidak diberi kesempatan oleh lipan-lipan itu untuk meninggalkan Muara Kaman hidup-hidup. Karena lipan-lipan itu telah diucap untuk membinasakan Raja dan Bala tentara Cina, maka dengan bergelombang mereka menyerbu terus sampai ke Jung Cina. Raja dan segenap Bala tentara Cina tak dapat berkisar ke mana pun lagi dan akhirnya mereka musnah semuanya. Jung mereka ditenggelamkan juga.

Sementara itu Aji Bedarah Putih segera hilang dengan gaib, entah kemana dan bersamaan dengan gaibnya putri, maka gaib pulalah Sumur Air Berani, sebagai kekuatan tenaga sakti kerajaan itu. Tempat Jung Raja Cina yang tenggelam dan lautnya yang kemudian mendangkal menjadi suatu daratan dengan padang luas itulah yang kemudian disebut hingga sekarang dengan nama Danau Lipan.
Baca selengkapnya

Rabu, 27 Agustus 2014

Legenda Jaka Tarub [Jawa Tengah]

 

   Jaka Tarub adalah seorang pemuda gagah yang memiliki kesaktian. Ia sering keluar masuk hutan untuk berburu maupun menimba ilmu. Ketika suatu hari di malam bulan purnama ia memasuki hutan, dari kejauhan ia mendengar sayup-sayup suara wanita yang sedang bercanda. Terdorong oleh rasa penasaran, Jaka Tarub berjalan mencari arah menuju suara-suara itu. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah danau yang sangat indah di tengah hutan, beserta 7 orang wanita yang sangat cantik sedang mandi dan bercanda ria. Dengan mengendap- ngendap, Jaka Tarub berjalan mendekat. Kemudian ia menemukan selendang wanita-wanita tersebut yang tergeletak berserakan. Setelah memilih, ia mencuri salah satunya dan menyembunyikannya. Beberapa saat pun berlalu dan para bidadari sudah hendak kembali ke khayangan.

Nawang Wulan       : Kak, bagaimana ini selendangku tidak ada ?
Bidadari tertua        : Cepat Nawang Wulan, coba kita mencari sampai ketemu.
Nawang Wulan       : (Setelah beberapa saat) tetap tidak ada kak. Bagaimana aku kembali ke khayangan ?
6 Bidadari                 : Maaf Nawang, kami harus meninggalkanmu disini karena matahari semakin terbenam.
Nawang Wulan       : Kakak, bawa aku ke khayangan. (Sambil menangis)
Bidadari tertua        : Maaf Nawang, tanpa selendang itu kamu tidak bisa kembali. (Terbang diikuti bidadari yang lain)

Sambil menangis Nawang Wulan mencari-cari selendangnya. Jaka Tarub kemudian menampakkan dirinya dengan membawa kain (bukan selendang Nawang Wulan) dan menghibur sang bidadari. Awalnya Nawang Wulan takut karena mengira Jaka Tarub orang jahat, tetapi setelah Jaka Tarub berhasil meyakinkan Nawang Wulan mau berbicara.

Jaka Tarub                : Hai, kenapa kamu disini ? (Mendekat pada Nawang Wulan)
Nawang Wulan       : Siapa kamu ? Jangan mendekat !
Jaka Tarub                : Tenang, saya Jaka Tarub. Saya tidak berniat jahat.
Nawang Wulan       : Lalu kenapa kamu disini ?
Jaka Tarub                : Saya sedang mencari hewan buruan, kebetulan saya mendengar ada wanita bercanda di dekat sini. Dan akhirnya saya mendapati kamu sedang menangis.
Nawang Wulan       : Selendang saya hilang, entah siapa yang mengambil selendang tersebut.
Jaka Tarub                : Selendang ? (Pura-pura terkejut). Buat apa selendang ?
Nawang Wulan       : Iya selendang. Sebenarnya saya adalah bidadari dari khayangan. Saya dan kakak-kakak saya biasa mandi di danau seperti ini.
Jaka Tarub                : Oooh... Kalau mau, kamu bisa menginap di rumah saya. Tenang, saya orang baik. (Meyakinkan Nawang Wulan)
Nawang Wulan       : Iya, saya ikut ke rumah kamu. (Dengan terpaksa)

Setelah beberapa bulan, Jaka Tarub ingin menikah dengan Nawang Wulan. Pada suatu hari, Jaka Tarub mengutarakan maksudnya tersebut. Karena merasa tidak memiliki siapapun di bumi, Nawang Wulan menerima tawaran Jaka Tarub tersebut. Sejak menikah dengan Nawang Wulan, Jaka Tarub hidup berkecukupan. Panennya melimpah dan lumbung selalu dipenuhi oleh padi tanpa pernah berkekurangan. Pakaian Nawang Wulan disembunyikan Jaka Tarub di dalam lumbung yang selalu penuh.

Nawang Wulan       : Jaka, bagaimana hasil panennya ?
Jaka Tarub                : Tidak ada halangan Nawang, semakin lama semakin banyak kita panen.
Nawang Wulan       : Tapi kamu harus tetap kerja keras, karena mungkin saat musim kemarau kita jarang panen.
Jaka Tarub                : Iya Nawang, aku pasti tetap kerja keras.
Nawang Wulan       : (Tersenyum bahagia)

Lalu mereka dikaruniai seorang anak (menurut cerita anak itu bernama Nawangsih). Mereka hidup bahagia dan selalu merawat Nawang Asih dengan sepenuh hati. Namun setelah beberapa lama hidup berumah tangga, terusiklah rasa ingin tahu Jaka Tarub. Setiap hari ia dan keluarganya selalu makan nasi, namun lumbung selalu tidak pernah berkurang seolah tak ada padi yang dipakai untuk mereka makan. Suatu hari Nawang Wulan hendak pergi ke sungai. Nawang Wulan berpesan agar Jaka Tarub tidak membuka tutup penanak nasi apapun yang terjadi.

Nawang Wulan       : Jaka, jangan kamu buka tutup ini apapun yang terjadi.
Jaka Tarub                : Kenapa ? (penasaran)
Nawang Wulan       : Sudahlah, kamu turuti apa kata-kata ku tadi. Sekarang aku pamit pergi ke sungai, Jaka. (Pergi meninggalkan rumah)

Namun karena Jaka Tarub penasaran, akhirnya ia mencoba melihat apa yang ada di dalam penanak nasi tersebut. Dan di dalamnya hanya terdapat sebutir beras. Akhirnya Jaka Tarub membiarkan beras itu tetap di dalam. Setelah Nawang Wulan pulang, ia bertanya pada Jaka Tarub tentang larangannya tadi.

Nawang Wulan       : Jaka, apakah kamu membuka tutup ini ? (heran)
Jaka Tarub                : Tidak, saya tidak membuka tutup itu.
Nawang Wulan       : Bohong ! Lalu kenapa beras ini tidak berubah ? (bertanya dengan emosi)
Jaka Tarub                : (Tertunduk) Iya , Nawang. Saya telah melihat isi di dalamnya.
Nawang Wulan       : Apakah kamu tidak mendengar pesan saya tadi, Jaka !
Jaka Tarub                : Saya mengerti, tapi saya penasaran kenapa padi kita tidak pernah habis. Padahal kita selalu makan nasi.
Nawang Wulan       : (Menangis dan meninggalkan Jaka Tarub)

Nawang Wulan menjadi sedih karena sejak saat itu ia harus memasak nasi seperti manusia biasa. Ia harus bersusah payah menumbuk padi banyak- banyak menjadi beras sebelum kemudian menanaknya menjadi nasi. Akibatnya karena dipakai terus menerus, lama kelamaan persediaan padi di lumbung Jaka Tarub semakin menyusut. Pelan tapi pasti, padi mereka semakin habis, sementara musim panen masih belum tiba. Ketika suatu hari Nawang Wulan kembali mengambil padi untuk ditumbuk, dilihatnya seonggok kain yang tersembul di balik tumpukan padi. Ketika ditarik dan diperhatikan, teringatlah Nawang Wulan kalau itu adalah selendang bidadarinya.

Nawang Wulan       : (monolog) Rupanya selama ini Jaka Tarub yang menyembunyikan pakaianku. Dan karena isi lumbung terus berkurang pada akhirnya aku bisa menemukannya kembali. Ini pasti sudah menjadi kehendak Yang Di Atas. Tapi kenapa Jaka Tarub tega berbuat seperti ini kepadaku ? Apakah salahku kepadanya ? (Nawang Wulan menangis).

Ia lalu menemui Jaka Tarub untuk berpamitan dan memintanya merawat anak mereka baik-baik. Jaka Tarub memohon dengan sangat agar istrinya tidak meninggalkannya, namun sudah takdir Nawang Wulan untuk kembali ke khayangan dan berpisah dengannya.

Nawang Wulan       : Jaka, terimakasih atas semua kebaikanmu selama ini. Kamu memang orang baik. (Tersenyum)
Jaka Tarub                : (Terkejut) Dari mana kamu mendapat selendang itu ?
Nawang Wulan       : Kamu tidak perlu berpura-pura, saya sudah mengetahui semua. Sekarang saya akan kembali ke khayangan.
Jaka Tarub                : Tidak ! Jangan kamu pergi Nawang, aku sangat mencintaimu.
Nawang Wulan       : Tapi aku harus kembali menemui keluargaku di atas. Aku tidak dapat tinggal di sini.
Jaka Tarub                : Bagaimana dengan anak kita ? Kamu tidak kasihan ?
Nawang Wulan       : Saya ingin kamu merawatnya, agar kelak menjadi orang baik sepertimu. Jika ingin bertemu, setiap bulan purnama datanglah ke dekat danau dimana kita pertama bertemu. Teriakkan namaku maka aku akan datang.
Jaka Tarub                : Selamat jalan Nawang, aku selalu menunggumu kembali.
Nawang Wulan       : Suatu saat nanti (terbang kembali ke khayangan)

Ia pun kemudian terbang ke langit menuju khayangan, meninggalkan Jaka Tarub yang menangis dalam penyesalan..
Baca selengkapnya

Legenda Sangkuriang [Jawa Barat]

   Pada zaman dahulu, di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang bernama Dayang Sumbi. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Sangkuriang, anak tersebut sangat gemar berburu di dalam hutan. Setiap berburu, dia selalu ditemani oleh seekor anjing kesayangannya yang bernama Tumang. Tumang sebenarnya adalah titisan dewa, dan juga bapak kandung Sangkuriang, tetapi Sangkuriang tidak tahu akan hal itu dan ibunya memang sengaja merahasiakannya.
   Pada suatu hari, Sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu.setelah sesampainya di hutan, Sangkuriang mulai mencari binatang buruan.
Sangkuriang : "Hei Tumang, peka kan indra penciuman mu. Untuk mencari dimana binatang buruan kita."
Tumang : "Baik Sangkuriang" sambil mengendus.
   Karna kepekaan indra penciuman Tumang, akhirnya ditemukannya seekor rusa yang sedang makan rerumputan di hutan.
Tumang : "Hei lihat, Sangkuriang ! ada seekor rusa !" tegas Tumang dengan penglihatan tajamnya.
Sangkuriang : "kerja bagus kawan." Sambil tertawa.
   Tanpa pikir panjang, Sangkuriang pun langsung membidik seekor rusa dengan panahnya dan tepat mengenai sasaran.
   Lalu, Sangkuriang memerintah Tumang untuk membawa rusa ke hadapan Sangkuriang dan membawa pulang hasil buruan tersebut, tetapi Tumang tidak mau mengikuti perintah sangkuriang.
Sangkuriang: "Tolong kau cepat ambil rusa itu, bawa rusa itu ke aku dan kita bawa pulang buruan itu."
Tumang : "Tidak mau, aku ini bukan budak mu Sangkuriang." balasnya.
Sangkuriang : "Ku bilang ambil ambil !! cepat sana." dengan nada tinggi.
Tumang : "Tidak mau." Jawabnya lagi
   Sangkuriang jengkel pada Tumang, akhirnya Sangkuriang mengusir Tumang dan tidak di izinkan pulang ke rumahnya bersama lagi.
Sangkuriang : "Pergi sana ! aku tidak mau melihatmu lagi." bentak sangkuriang.
   Tumang lalu pergi dengan kepala menunduk ke bawah.
   Sesampainya di rumah, Sangkuriang menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. Begitu mendengar cerita dari anaknya, Dayang sumbi sangat marah. Diambilnya sendok nasi, dan dipukulkan ke kepala sangkuriang.
Sangkuriang : "Bunda !" Kepala menunduk kebawah sambil menyesal.
Dayang Sumbi : "Iya ada apa anak ku Sangkuriang? wah hasil buruanmu besar sekali." dengan nada senang, "Hmm, dimana Tumang?" katanya lagi tetapi dengan nada heran.
Sangkuriang : "Tumang sudah ku usir Bunda, Habis...." belum selesai berkata, bundanya langsung menyahut.
Dayang Sumbi : "Apa ? Tumang kau usir ?" Nada terkaget.
Sangkuriang : "Maafkan aku bunda, habis aku kesal sekali dengan dia." merenung.
   Dayang Sumbi lalu lari ke dapur dan mengambil sendok nasi untuk memukul Sangkuriang.
Karena merasa kecewa dengan perlakuan ibunya, maka sangkuriang memutuskan untuk pergi
Mengembara dan meninggalkan ibunya.
Sangkuriang : "Aku sangat kecewa sama bunda, Tumang hanyalah seekor anjing jantan,  bukan lebih !" dengan nada marah.
Dayang Sumbi   : "Kamu tidak tahu apa-apa anak ku." Menangis sedih mendengar perkataan anaknya.
Sangkuriang : "Aku akan pergi untuk mengembara, ku mohon bunda jangan memperdulikan aku lagi. Sekali lagi maafkan aku bunda." ujarnya.
   Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali perbuatannya. Ia berdoa setiap hari, dan meminta agar suatu hari dapat bertemu dengan anaknya kembali. Karena kesungguhan dari doa Dayang Sumbi tersebut, maka Tuhan memberinya sebuah hadiah berupa kecantikan abadi dan usia muda selamanya.
Dayang Sumbi : "Hah ! kenapa dengan wajahku ini ?" Dayang Sumbi terkaget. "Apakah ini rencana mu, Oh Tuhan? untuk mempertemukan kembali dengan anakku?" sambil mengelus wajah dengan kedua tangannya.
   Setelah bertahun-tahun lamanya Sangkuriang mengembara, akhirnya ia berniat untuk pulang ke kampung halamannya.
Sangkuriang : "Sudah 5 tahun lamanya, tiba-tiba rasa kangen datang kepadaku. Bagaimana keadaan bunda dirumah ya?" sambil berjalan ke arah rumah bundanya.
   Sesampainya disana, dia sangat terkejut sekali, karena kampung halamannya sudah berubah total. Walau kampung halamnnya sudah berubah, ia bertambah senang ketika saat di tengah jalan bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik jelita, yang tidak lain adalah Dayang Sumbi. Karena terpesonanya dengan kecantikan wanita tersebut, maka Sangkuriang langsung melamarnya.
Sangkuriang : "Hmm.., maukah kamu menikah dengan ku walau pun dengan pertemuan yang sangat singkat." tanya sangkuriang dengan gagahnya.
Dayang Sumbi : "Iya aku mau !" jawab Dayang sumbi.
Akhirnya lamaran Sangkuriang diterima oleh Dayng Sumbi, dan sepakat untuk menikah di waktu  yang dekat.
   Pada suatu hari, Sangkuriang meminta ijin calon istrinya untuk berburu di hutan. Sebelum berangkat, ia meminta Dayang Sumbi untuk mengencangkan dan mengikat ikat kepalanya. alangkah terkejutnya Dayang Sumbi, karena pada saat merapikan ikat kepala Sangkuriang, ia melihat ada bekas luka. Bekas luka tersebut mirip dengan bekas luka anaknya.
Dayang Sumbi : "Hah, dengan luka di kepala mu, sepertinya aku pernah kenal denganmu?" Dayang Sumbi kaget dan heran.
Sangkuriang : "Sepertinya baru kemarin kita kenal." Tertawa Sangkuriang.
Dayang Sumbi : "Kamu dapat luka itu dari mana?" Tanya Dayang Sumbi.
Sangkuriang : "Aku dapat luka ini, waktu aku pergi berburu di hutan ini, 5 tahun yang lalu." Jawabnya.
Lalu Sangkuriang pergi ke hutan.
   Setelah bertanya kepada Sangkuriang tentang penyebab lukanya itu, Dayang Sumbi tambah terkejut, karena ternyata benar bahwa calon suaminya tersebut adalah anaknya.
Dayang Sumbi : "Apakah benar dia anak ku !" sambil memandang langit.
Dayang Sumbi sangat bingung sekali, karena dia tidak mungkin menikah dengan anaknya sendiri.
Dayang Sumbi : "Tidak mungkin aku menikah dengan anakku sendiri, aku akan bilang kepada Sangkuriang pada saat pulang berburu nanti, bahwa aku akan membatalkan pernikahan." dengan perasaan buru - buru.
   Setelah sangkuriang pulang berburu, Dayang Sumbi mencoba berbicara dengan Sangkuriang, supaya Sangkuriang membatalkan rencana pernikahan mereka.
Dayang Sumbi : "Mas, lelah ya ?" Tanya Dayang Sumbi.
Sangkuriang : "Sudah jelas-jelas aku lelah." Jawabnya.
Dayang Sumbi : "Hmm, aku ingin berbicara denganmu."
Sangkuriang : "Iya !" 
Dayang Sumbi : "Aku ingin kita membatalkan pernikahan kita" 
Sangkuriang : "A.. apa kamu bilang ?" Terkaget.
Dayang Sumbi : "Aku ingin kita membatalkan pernikahan ini. Karena setelah ada bukti luka di kepalamu itu. Kau itu adalah anakku." Jawabnya ulang. 
Sangkuriang : "Tapi itu tidak mungkin, kalau kau adalah ibuku, kau pasti sudah tua." ujarnya.
   Permintaan Dayang Sumbi tersebut tidak disetujui Sangkuriang, dan hanya dianggap angin lalu saja.
Setiap hari Dayang Sumbi berpikir bagaimana caranya agar pernikahan mereka tidak pernah terjadi.
Setelah berpikir keras, akhirnya Dayang Sumbi menemukan cara terbaik. Dia mengajukan dua buah
Syarat kepada Sangkuriang. Syarat pertama Dayang Sumbi ingin supaya sungai Citarum dibendung.
Dan yang kedua adalah, meminta Sangkuriang untuk membuat sampan yang sangat besar untuk
Menyeberang sungai.
Sangkuriang : "Baik, aku akan penuhi syarat dari mu sebelum fajar menyingsing, tetapi jika aku memenuhi kedua syaratmu, kamu menjadi istri ku, jika aku tidak bisa memenuhi kedua syarat dari mu. Aku akan membatalkan pernikahannya." Dengan lapang dada ia menjawab.
   Sangkuriang menyanggupi kedua permintaan Dayang Sumbi tersebut, dan berjanji akan menyelesaikan sebelum fajar menyingsing. Dengan kesaktian yang dimilikinya Sangkuriang lalu mengerahkan temannya dari bangsa jin untuk membantu menyelesaikan tugas tersebut.
Sangkuriang : "Wahai jin, maukah kamu membantuku untuk membuat sampan yang besar" Tanya ia sambil melihat ke atas langit.
Jin : "Baiklah, aku akan membantumu, wahai  Sangkuriang." Jawab dengan menggema
   Diam-diam, Dayang Sumbi mengintip hasil kerja dari Sangkuriang, betapa terkejutnya dia kerena Sangkuriang hampir menyelesaikan semua syarat yang diberikan dayang sumbi sebelum fajar.Dayang Sumbi lalu meminta bantuan masyarakat sekitar untuk menggelar kain sutera berwarna merah di sebelah timur kota.
Ketika melihat warna memerah ditimur kota, Sangkuriang lalu memberhentikan pekerjaannya dan merasa tidak dapat memenuhi syarat yang telah di ajukan oleh Dayang Sumbi.
Sangkuriang : "Sial ! waktu cepat berlalu, waktu fajar telah tiba." Dengan sangat  kesalnya.
Dengan rasa jengkel dan kecewa, Sangkuriang lalu menjebol bendungan yang telah dibuatnya sendiri.
   Karena jebolnya bendungan itu, maka terjadilah banjir dan seluruh kota terendam air. Sangkuriang juga menendang sampan besar yang telah dibuatnya, sampan itu melayang dan jatuh tertelungkup, lalu menjadi sebuah gunung yang bernama “Tangkuban Parahu.”

"SELESAI, MOHON MAAF BILA ADA KESALAHAN KATA. SELALU KOMEN BILA ADA KOMENTAR"

Baca selengkapnya