Translate

Tampilkan postingan dengan label Fabel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fabel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juni 2015

Sapi dan Kerbau



Oleh: Hafidali25
   Pada suatu hari, hidup dua kelompok kawanan hewan yaitu, kerbau dan sapi. Mereka semua adalah hewan ternak di sebuah Peternakan yang ada di sebuah desa. Walaupun mereka semua sama - sama hewan ternak, hidup dua kelompok hewan tersebut selalu bermusuhan dan tidak pernah akur setiap hari.
   Di siang hari yang tenang, pada saat peternak sedang mengangun mereka di padang rumput yang luas, terjadi keributan dari dua kelompok hewan tersebut. "Hey, Sapi! Percuma saja kalian makan sampai perut kenyang disini dan akhirnya kalian semua nanti akan diambil air susunya. Hahahaha...!", ucap seekor kerbau yang berada di kelompoknya dengan tertawa sombong. Seekor sapi terhenti makan setelah mendengar perkataan itu, dan segera menjawab dengan marahnya, "Apa kau bilang, Kerbau?!" . "Daripada kalian, apa untungnya menjadi hewan tenaga pembajak sawah, hah?" balik bertanya dari seekor sapi kepada sekelompok kawanan kerbau sambil meneruskan makan siangnya itu. "Hahahaha....! Kasihan sekali kalian", seluruh kawanan sapi tertawa terbahak - bahak mendengar perkataan itu. Mendengar perkataan itu, seekor kerbau tadi tidak terima dan berkata, "Yang terpenting kita lebih baik dari mereka, lihatlah kawan - kawan mereka terlahir penuh dengan bercak hitam bagaikan tato di tubuhnya". "Hahahaha.. Betul itu!", sahut kerbau lain. “Daripada kalian wahai kerbau, selalu bermain ditempat yang kotor. Pantas saja kalian kotor dan kumuh”, balas  dari seekor sapi tersebut sehingga membuat emosi seekor kerbau. “Aaaaah! Beraninya kau, sapi!”, kata seekor kerbau sambil menghampiri seekor sapi itu didepannya. "Kau mau membuat masalah disini rupanya, yah? menantangku untuk berkelahi? Oke, tidak masalah", kata seekor sapi yang mengerti maksud kerbau tersebut untuk mengajak berkelahi. Suasananya pun berubah dari tenang menjadi kacau, dari saling ejek mengejek sampai terjadi perkelahian yang berakhir keduanya babak belur.
   Keesokan harinya, saat dua kelompok hewan tersebut sedang dikandang masing - masing , ada seorang pembeli yang ingin membeli sapi untuk dijadikan hewan sembelih. Sontak saja semua sapi di peternakan terkaget, karena salah satu anggotanya telah terpilih untuk di jadikan hewan sembelih. Kejadian ini menyebabkan seluruh sapi bersedih dan merasa kehilangan. Salah satu seekor kerbau tersentuh hatinya melihat kejadian tersebut dan berkata kepada kawanan sapi, "Jadi, seperti ini kalian. Walaupun bukan kalian yang terpilih untuk disembelih, tetapi kalian merasa kehilangan karena teman kalian telah tiada". "Kita semua ditakdirkan untuk hidup bersama - sama, kita senang melihat teman kita senang, kita sedih melihat teman kita sedih", jawab seekor sapi kepada kerbau itu. Mendengar perkataan itu, seekor kerbau mewakili kerbau lainnya meminta maaf dengan berkata, "Sapi, maafkanlah perbuatanku dan juga dari kerbau lainnya yang telah mengejek dan menghina kalian. Di belakang mata kami, ternyata kalian adalah hewan baik yang setia kawan". "Iya, sapi maafkanlah perbuatan kami yang membuatmu tersakiti,  dan maukah kita hidup bersama dengan damai walaupun dari dua kelompok berbeda?", tanya kerbau lainnya. "Itulah yang diinginkan kami, walaupun kita berbeda tetapi kita bisa hidup damai bersama - sama suka maupun duka tanpa memandang kekurangan dan kelebihan", jawab seekor sapi dengan senyuman dan senang hati menerima permintaan persahabatan itu. Akhirnya, mereka hidup dengan damai dan tenang bersama - sama.
Baca selengkapnya

Rabu, 27 Agustus 2014

Si Kancil Mencuri Ketimun



Oleh:

Drs. Sastra Pratama


Siang itu panas sekali. Matahari bersinar garang. Tapi hal itu tidak terlalu dirasakan oleh Kancil. Dia sedang tidur nyenyak di bawah sebatang pohon yang rindang.
Tiba-tiba saja mimpi indahnya terputus. “Tolong! Tolong! ” terdengar teriakan dan jeritan berulang-ulang. Lalu terdengar suara derap kaki binatang yang sedang berlari-lari.
“Ada apa, sih?” kata Kancil. Matanya berkejap-kejap, terasa berat untuk dibuka karena masih mengantuk.
Di kejauhan tampak segerombolan binatang berlari-lari menuju ke arahnya. “Kebakaran! Kebakaran! ” teriak Kambing. ” Ayo lari, Cil! Ada kebakaran di hutan! “
Memang benar. Asap tebal membubung tinggi ke angkasa. Kancil ketakutan melihatnya. Dia langsung bangkit dan berlari mengikuti teman-temannya.
Kancil terus berlari. Wah, cepat juga larinya. Ya, walaupun Kancil bertubuh kecil, tapi dia dapat berlari cepat. Tanpa terasa, Kancil telah berlari jauh, meninggalkan teman-temannya.
“Aduh, napasku habis rasanya,” Kancil berhenti dengan napas terengah-engah, lalu duduk beristirahat. “Lho, di mana binatang-binatang lainnya?” Walaupun Kancil senang karena lolos dari bahaya, tiba-tiba ia merasa takut. “Wah, aku berada di mana sekarang? Sepertinya belum pernah ke sini.”
Kancil berjalan sambil mengamati daerah sekitarnya. “Waduh, aku tersesat. Sendirian lagi. Bagaimana ini?’7 Kancil semakin takut dan bingung. “Tuhan, tolonglah aku.”
Kancil terus berjalan menjelajahi hutan yang belum pernah dilaluinya. Tanpa terasa, dia tiba di pinggir hutan. Ia melihat sebuah ladang milik Pak Tani.
“Ladang sayur dan buah-buahan? Oh, syukurlah. Terima kasih, Tuhan,” mata Kancil membelalak. Ladang itu penuh dengan sayur dan buah-buahan yang siap dipanen. Wow, asyik sekali!
“Kebetulan nih, aku haus dan lapar sekali,” kata Kancil sambil menelan air liurnya. “Tenggorokanku juga terasa kering. Dan perutku keroncongan minta diisi. Makan dulu, ah.”
Dengan tanpa dosa, Kancil melahap sayur dan buahbuahan yang ada di ladang. Wah, kasihan Pak Tani. Dia pasti marah kalau melihat kejadian ini. Si Kancil nakal sekali, ya?
“Hmm, sedap sekali,” kata Kancil sambil mengusap-usap perutnya yang kekenyangan. “Andai setiap hari pesta seperti ini, pasti asyik.”
Setelah puas, Kancil merebahkan dirinya di bawah sebatang pohon yang rindang. Semilir angin yang bertiup, membuatnya mengantuk. “Oahem, aku jadi kepingin tidur lagi,” kata Kancil sambil menguap.
Akhirnya binatang yang nakal itu tertidur, melanjutkan tidur siangnya yang terganggu gara-gara kebakaran di hutan tadi. Wah, tidurnya begitu pulas, sampai terdengar suara dengkurannya. Krr… krr… krrr…
Ketika bangun pada keesokan harinya, Kancil merasa lapar lagi. “Wah, pesta berlanjut lagi, nih,” kata Kancil pada dirinya sendiri. “Kali ini aku pilih-pilih dulu, ah. Siapa tahu ada buah timun kesukaanku.”
Maka Kancil berjalan-jalan mengitari ladang Pak Tani yang luas itu. “Wow, itu dia yang kucari! ” seru Kancil gembira. “Hmm, timunnya kelihatan begitu segar. Besarbesar lagi! Wah, pasti sedap nih.”
Kancil langsung makan buah timun sampai kenyang. “Wow, sedap sekali sarapan timun,” kata Kancil sambil tersenyum puas.
Hari sudah agak siang. Lalu Kancil kembali ke bawah pohon rindang untuk beristirahat.
Pak Tani terkejut sekali ketika melihat ladangnya. “Wah, ladang timunku kok jadi berantakan-begini,” kata Pak Tani geram. “Perbuatan siapa, ya? Pasti ada hama baru yang ganas. Atau mungkinkah ada bocah nakal atau binatang lapar yang mencuri timunku?”
Ladang timun itu memang benar-benar berantakan. Banyak pohon timun yang rusak karena terinjak-injak. Dan banyak pula serpihan buah timun yang berserakan di tanah. Hm, awas, ya, kalau sampai tertangkap! ” omel Pak Tani sambil mengibas-ngibaskan sabitnya. “Panen timunku jadi berantakan.”
Maka seharian Pak Tani sibuk membenahi kembali ladangnya yang berantakan.
Dari tempat istirahatnya, Kancil terus memperhatikan Pak Tani itu. “Hmm, dia pasti yang bernama Pak Tani,” kata Kancil pada dirinya sendiri. “Kumisnya boleh juga. Tebal,’ hitam, dan melengkung ke atas. Lucu sekali. Hi… hi… hi….
Sebelumnya Kancil memang belum pernah bertemu dengan manusia. Tapi dia sering mendengar cerita tentang Pak Tani dari teman-temannya. “Aduh, Pak Tani kok lama ya,” ujar Kancil. Ya, dia telah menunggu lama sekali. Siang itu Kancil ingin makan timun lagi. Rupanya dia ketagihan makan buah timun yang segar itu.
Sore harinya, Pak Tani pulang sambil memanggul keranjang berisi timun di bahunya. Dia pulang sambil mengomel, karena hasil panennya jadi berkurang. Dan waktunya habis untuk menata kembali ladangnya yang berantakan.
“Ah, akhirnya tiba juga waktu yang kutunggu-tunggu,” Kancil bangkit dan berjalan ke ladang. Binatang yang nakal itu kembali berpesta makan timun Pak Tani.
Keesokan harinya, Pak Tani geram dan marah-marah melihat ladangnya berantakan lagi. “Benar-benar keterlaluan! ” seru Pak Tani sambil mengepalkan tangannya. “Ternyata tanaman lainnya juga rusak dan dicuri.”
Pak Tani berlutut di tanah untuk mengetahui jejak si pencuri. “Hmm, pencurinya pasti binatang,” kata Pak Tani. “Jejak kaki manusia tidak begini bentuknya.”
Pemilik ladang yang malang itu bertekad untuk menangkap si pencuri. “Aku harus membuat perangkap untuk menangkapnya! “
Maka Pak Tani segera meninggalkan ladang. Setiba di rumahnya, dia membuat sebuah boneka yang menyerupai manusia. Lalu dia melumuri orang-orangan ladang itu dengan getah nangka yang lengket!
Pak Tani kembali lagi ke ladang. Orang-orangan itu dipasangnya di tengah ladang timun. Bentuknya persis seperti manusia yang sedang berjaga-jaga. Pakaiannya yang kedodoran berkibar-kibar tertiup angin.
Sementara kepalanya memakai caping, seperti milik Pak Tani.
“Wah, sepertinya Pak Tani tidak sendiri lagi,” ucap Kancil, yang melihat dari kejauhan. “Ia datang bersama temannya. Tapi mengapa temannya diam saja, dan Pak Tani meninggalkannya sendirian di tengah ladang?”
Lama sekali Kancil menunggu kepergian teman Pak Tani. Akhirnya dia tak tahan. “Ah, lebih baik aku ke sana,” kata Kancil memutuskan. “Sekalian minta maaf karena telah mencuri timun Pak Tani. Siapa tahu aku malah diberinya timun gratis.”
“Maafkan saya, Pak,” sesal Kancil di depan orangorangan ladang itu. “Sayalah yang telah mencuri timun Pak Tani. Perut saya lapar sekali. Bapak tidak marah, kan?”
Tentu saj,a orang-orangan ladang itu tidak menjawab. Berkali-kali Kancil meminta maaf. Tapi orang-orangan itu tetap diam. Wajahnya tersenyum, tampak seperti mengejek Kancil.
“Huh, sombong sekali!” seru Kancil marah. “Aku minta maaf kok diam saja. Malah tersenyum mengejek. Memangnya lucu apa?” gerutunya.
Akhirnya Kancil tak tahan lagi. Ditinjunya orangorangan ladang itu dengan tangan kanan. Buuuk! Lho, kok tangannya tidak bisa ditarik? Ditinjunya lagi dengan tangan kiri. Buuuk! Wah, kini kedua tangannya melekat erat di tubuh boneka itu.
” Lepaskan tanganku! ” teriak Kancil j engkel. ” Kalau tidak, kutendang kau! ” Buuuk! Kini kaki si Kancil malah melekat juga di tubuh orang-orangan itu. “Aduh, bagaimana ini?”
Sore harinya, Pak Tani kembali ke ladang. “Nah, ini dia pencurinya! ” Pak Tani senang melihat jebakannya berhasil. “Rupanya kau yang telah merusak ladang dan mencuri
timunku.” Pak Tani tertawa ketika melepaskan Kancil. “Katanya kancil binatang yang cerdik,” ejek Pak Tani. “Tapi kok tertipu oleh orang-orangan ladang. Ha… ha… ha…. “
Kancil pasrah saja ketika dibawa pulang ke rumah Pak Tani. Dia dikurung di dalam kandang ayam. Tapi Kancil terkejut ketika Pak Tani menyuruh istrinya menyiapkan bumbu sate.
” Aku harus segera keluar malam ini j uga I ” tekad Kancil. Kalau tidak, tamatlah riwayatku. “
Malam harinya, ketika seisi rumah sudah tidur, Kancil memanggil-manggil Anjing, si penjaga rumah. “Ssst… Anjing, kemarilah,” bisik Kancil. “Perkenalkan, aku Kancil. Binatang piaraan baru Pak Tani. Tahukah kau? Besok aku akan diajak Pak Tani menghadiri pesta di rumah Pak Lurah. Asyik, ya?”
Anjing terkejut mendengarnya. “Apa? Aku tak percaya! Aku yang sudah lama ikut Pak Tani saja tidak pernah diajak pergi. Eh, malah kau yang diajak.”
Kancil tersenyum penuh arti. “Yah, terserah kalau kau tidak percaya. Lihat saja besok! Aku tidak bohong! “
Rupanya Anjing terpengaruh oleh kata-kata si Kancil. Dia meminta agar Kancil membujuk Pak Tani untuk mengajakn-ya pergi ke pesta.
“Oke, aku akan berusaha membujuk Pak Tani,” janji Kancil. “Tapi malam ini kau harus menemaniku tidur di kandang ayam. Bagaimana?” Anjing setuju dengan tawaran Kancil. Dia segera membuka gerendel pintu kandang, dan masuk. Dengan sigap, Kancil cepat-cepat keluar dari kandang.
“Terima kasih,” kata Kancil sambil menutup kembali gerendel pintu. “Maaf Iho, aku terpaksa berbohong. Titip salam ya, buat Pak Tani. Dan tolong sampaikan maafku padanya.” Kancil segera berlari meninggalkan rumah Pak Tani. Anjing yang malang itu baru menyadari kejadian sebenarnya ketika Kancil sudah menghilang.
[SELESAI]
Baca selengkapnya

Kelelawar dan Musang

Pengarang: Aesop


Seekor kelelawar tanpa sengaja masuk ke dalam sarang seekor musang yang dengan cepat menangkapnya. Sang Kelelawar memohon-mohon agar dilepaskan, tetap sang Musang tidak mau mendengarkannya.
"Kamu adalah seekor tikus," katanya, "dan Saya sangat membenci tikus. Setiap tikus yang saya tangkap, akan saya mangsa!"
"Tapi saya bukan seekor tikus!" teriak sang Kelelawar. "Lihatlah sayapku, dapatkan seekor tikus terbang?, Saya adalah seekor burung! mohon lepaskanlah saya!"
Sang Musang mengakui bahwa sang Kelelawar bukanlah seekor tikus sehingga melepaskannya pergi. Tetapi beberapa hari kemudian, kelelawar yang malang ini, tersesat lagi ke dalam sarang musang yang lain. Dan kebetulan musang ini bermusuhan dengan burung. Sang Musangpun menangkap dan bersiap untuk memangsa sang Kelelawar.
"Kamu adalah seekor burung," katanya, "dan saya akan memangsa kamu!"
"Apa?" teriak sang Kelelawar, "Saya? adalah burung? Mengapa kamu berkata begitu? semua burung memiliki bulu! Saya tidak memiliki bulu karena saya adalah seekor tikus."
Akhirnya sang Kelelawarpun selamat dari bahaya untuk kedua kalinya.

Pesan Moral: Tempatkanlah layarmu kemanapun angin bertiup. Sesuaikan dirimu dengan kondisi yang kamu alami.
Baca selengkapnya

Senin, 25 Agustus 2014

Nasib Laba - laba Penipu


Suatu hari, angin beristirahat setelah sekian lama bertiup. Di puncak bukit, dibalik batu besar, angin tertidur panjang.
Sementara itu, para binatang mulai merindukan angin. Merekapun mengirimkan laba- laba untuk mencari angin. Tidak lama, laba-laba menemukan angin dan membangunkannya.
Angin tidak suka tidurnya diganggu olah laba-laba. Anginpun mengusir laba-laba dan kembali tidur.
Karena laba-laba berjalan dengan perlahan, butuh waktu yang lama baginya turun dari bukit. Dalam perjalanannya, dia bertemu lalat yang juga dikirim untuk mencari angin.
Laba-laba berbohong kepada lalat dengan mengatakan bahwa ia telah menemukan angin dan berhasil membujuknya. Padahal, sebenarnya angin mengusir laba-laba.
Mendengar berita bagus itu, lalat pulang lebih dulu dan berencana mengakui bahwa ia yang terlebih dulu bertemu angin, bukannya laba-laba. Ia berharap akan mendapatan pujian dari para binatang.
Rencana berjalan lancar. Ia tiba di bawah sebelum laba-laba. Dengan berbohong, lalat menceritakan perjalanan beratnya untuk menemukan angin.
Para binatang merayakan keberhasilan lalat dan memuji lalat setinggi langit. Sementara, saat laba-laba pulang, ia diusir oleh para binatang karena tidak berhasil menemukan angin.
Sejak saat itulah laba-laba dan lalat menjadi musuh. Laba-laba sengaja membuat jebakan untuk membunuh dan memakan lalat. Sementara itu, angin sudah bangun dari tidur dan mulai bertiup kembali.

Dikutip dari:
365 Dongeng Dunia Sepanjang Masa
Oleh Sitta Mayasari
Baca selengkapnya